SMK KESEHATAN BINATAMA MENGADAKAN PELATIHAN PENGOLAHAN SAMPAH UNTUK PARA SISWA MENUJU SEKOLAH ADIWIYATA

IMG 20220613 WA0035 - SMK KESEHATAN BINATAMA MENGADAKAN PELATIHAN PENGOLAHAN SAMPAH UNTUK PARA SISWA MENUJU SEKOLAH ADIWIYATA

IMG 20220616 WA0022 - SMK KESEHATAN BINATAMA MENGADAKAN PELATIHAN PENGOLAHAN SAMPAH UNTUK PARA SISWA MENUJU SEKOLAH ADIWIYATA

SMK Kesehatan Binatama dalam upaya mencapai tujuan Program Adiwiyata dengan menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat penyadaran warga sekolah, sehingga menjadikan warga sekolah tersebut dapat turut bertanggungjawab dalam upaya penyelamatan lingkungan sekolah. Masalah sampah menjadi hal yang krusial dalam pelestarian lingkungan yang memerlukan peran seluruh unsur masyarakat dalam penanganannya.

Bertempat di SMK Kesehatan Binatama pada Senin, 13 Juni 2022 diadakan Workshop Pengolahan Sampah dan Pembuatan Ekoenzim, MOL, dan Pupuk Kompos yang diikuti oleh siswa kelas X Program Keahlian Keperawatan dan Farmasi didampingi para guru. Sampah organik dapat didekomposisi menjadi beberapa produk organik seperti pupuk organik padat, mikroorganisme lokal (MOL) dan ekoenzim.

“Apapun yang akan dibuat dari pengolahan sampah organik, maka kita sudah mencerminkan diri pada kepedulian lingkungan,” ujar Tujono, pelatih dari TPS Wilayah Ngaglik Sleman. Tujono menjelaskan beberapa perbedaan ekoenzim dengan MOL. Keduanya merupakan produk organik cair hasil proses dekomposisi bahan organik secara anaerobic yaitu kondisi tanpa oksigen.

Namun, lanjut dia, yang membedakan ekoenzim dengan pupuk MOL yaitu ekoenzim sejak awal ditujukan untuk menghasilkan produk organik cair yang memiliki aroma harum.

“Ekoenzim itu sudah sejak awal diniatkan untuk menghasilkan sesuatu yang menarik dan harum, sehingga bahan-bahan yang dipilih merupakan bahan yang terutama adalah kulit buah yang belum busuk sehingga menghasilkan aroma yang menarik,” jelas Tujono.

Disebutkan dia, dalam proses pembuatan ekoenzim, bahan organik yang digunakan kebanyakan berasal dari kulit buah-buahan seperti kulit jeruk dan nanas yang nantinya akan menghasilkan produk dengan aroma harum.

“Produk ekoenzim dibuat harum, karena penggunaan produk itu nantinya banyak untuk keperluan rumah tangga bukan hanya keperluan pertanian,” jelasnya. Sedangkan dalam pembuatan MOL cenderung menggunakan bahan organik yang beragam atau tidak spesifik.

“Kalau MOL itu buatnya dari segala macam sampah organik yang ada, karena selama ini MOL digunakan untuk keperluan di luar ruangan tidak seperti ekoenzim,” katanya. Dalam ekoenzim terkandung zat antimikroba, senyawa metabolit, enzim amilase, protease dan lipase. Ekoenzim dapat digunakan sebagai larutan desinfektan karena ekoenzim memiliki sifat asam.

Satu hal lain yang penting diketahui yaitu tingkat keasaman ekoenzim sangat tinggi atau pH nya rendah. Hal tersebut yang menyebabkan ekoenzim bisa menjadi desinfektan. Siswa diingingatkan saat menggunakan ekoenzim perlu dilakukan pelarutan atau pengenceran dengan air untuk mengurangi tingkat keasaman ekoenzim. Penggunaan ekoenzim harus diencerkan dengan air yang cukup banyak untuk meningkatkan pH atau mengurangi tingkat keasaman, terutama pada penggunaan ekoenzim untuk hidroponik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *