Lawatan Sejarah Bersama Dinas Kebudayaan Sleman

Kamis, 1 November 2018 empat perwakilan siswa dari SMK Kesehatan Binatama mengikuti kegiatan Lawatan Sejarah yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan Sleman. Kegiatan ini adalah tindak lanjut dari kegiatan sebelumnya, yakni lomba menulis cerpen tingkat SMP dan SMA/K se-Kabupaten Sleman dengan Tema Reaktualisasi dan Revitalisasi Kabupaten Sleman. SMK Kesehatan Binatama mengirimkan empat perwakilan untuk mengikuti lomba cerpen tersebut. Salah satu dari keempat siswa tersebut, Maharani Dea Agralalita jurusan Keperawatan meraih Juara Harapan 1 atau juara 4 dengan judul Cerpen Ibu Pendopo Sulaiman.
Kegiatan Lawatan Sejarah diikuti kurang lebih 75 peserta baik siswa maupun guru pendamping dari berbagai SMP dan SMA/K di Sleman. Ada tiga tempat yang dikunjungi, yakni Candi Sambisari, Candi Ratu Boko, dan Candi Banyunibo. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengkaji situs-situs sejarah guna menumbuhkan sikap gemar melestarikan, melindungi, dan memelihara peninggalan sejarah yang masih ada, meningkatkan wawasan kebudayaan kepada generasi muda supaya mencintai dan memahami sejarah bangsa dan budayanya yang ada di Indonesia khususnya di Sleman Yogyakarta. Hal ini dinilai efektif karena karena jika dalam proses belajar mengajar di kelas siswa lebih banyak menggunakan literatur buku sejarah tebal, sehingga pelajaran sejarah kadang terasa membingungkan dan membosankan, maka dalam Lawatan Sejarah siswa dapat langsung mengunjungi tempat bekas-bekas peninggalan. Dengan adanya Lawatan Sejarah menjadikan proses pembelajaran sejarah menyenangkan sekaligus menambah pengetahuan dan informasi sejarah kebudayaan Jawa.
Kunjungan pertama Candi Sambisari yang berada di Purwomartani, Kalasan. Candi ini merupakan candi Hindu dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi Sambisari ditemukan secara tidak sengaja. Seorang petani yang sedang mencangkul di sawahnya merasakan cangkulnya menghantam sebuah benda keras yang, setelah digali dan diamati, ternyata adalah sebuah batu berhiaskan pahatan.
Setelah itu rombongan menuju Candi Ratu Boko yang berada di selatan Candi Prambanan. Berbeda dengan peninggalan purbakala lain dari zaman Jawa Kuno yang umumnya berbentuk bangunan keagamaan, situs Ratu Boko merupakan kompleks profan, lengkap dengan gerbang masuk, pendopo, tempat tinggal, kolam pemandian, hingga pagar pelindung. Situs Ratu Boko terletak di atas bukit yang lumayan tinggi sehingga rombongan harus menaiki anak tangga untuk menuju Keraton Ratu Boko. Meskipun terik matahari sangat menyengat, siswa-siswi sangat antusias dalam kegiatan ini.
Kunjungan terakhir ke Candi Banyunibo letaknya tidak jauh dari Ratu Boko yaitu di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha. Hampir pada setiap bagian candi diisi oleh bermacam-macam hiasan dan relief, meskipun bagian yang satu dengan yang lain sering ditemukan motif hiasan yang sama. Hiasan pada kaki candi. Dinding kaki candi Banyunibo masing-masing sisi dibagi menjadi beberapa bidang. Bidang tersebut kemudian diisi dengan pahatan berupa hiasan tumbuh-tumbuhan yang keluar dari pot bunga. Candi utama menghadap ke barat dan terletak di antara ladang tebu dan persawahan.
Semua siswa tampak senang selama mengikuti proses kegiatan ini. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa-siswi untuk melestarikan dan mencintai sejarah kebudayaan Jawa. Setelah kegiatan selesai, rombongan kembali menuju Dinas Kebudayaan Sleman tempat awal mula berkumpul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *